Meike Blog

Blog ini sebagai tempat aku menyimpan catatan perjalananku,curahan hatiku, tempat aku mengekspresikan diriku, tempat aku bercerita, entah dengan kata-kata atau dengan DIAM sekalipun...

Minggu, 18 April 2010

Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Film garapan sutradara sekaligus aktor kawakan Deddy Mizwar yang berjudul Alangkah Lucunya (Negeri Ini) atau boleh juga disingkat ALNI ini akan ditayangkan di bioskop mulai hari ini (15 April 2010). Mumpung hari Minggu dan libur, ya daripada bete akhirnya jalan2 ke Mall Lippo Cikarang. Ehh.. kebetulan ada pemutaran perdana FILM LUCUNYA (NEGERI INI).

Seperti karya-karya film Deddy Mizwar lainnya yang terinspirasi dari kehidupan nyata sehari-hari, film ini juga memotret sebuah kisah kehidupan jalanan yaitu para pencopet dengan berbagai tingkah polahnya. Beberapa aktor besar peraih Piala Citra ikut bermain di film ini, seperti Deddy Mizwar, Slamet Raharjo, Tio Pakusadewo, dan lain-lain, yang memberi keyakinan bahwa film ini berkualitas dan memang layak ditonton.


Deskripsi...
Sejak lulus S1 Manajemen, Hampir 2 (dua) tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan, meskipun selalu gagal, ia tak pernah putus asa mencari kerja. Pak Makbul (Dedi Mizwar) ayah Muluk, selalu membanggakan anaknya dan meyakinkan pentikannya pendidikan kepada kawan akrabnya sejak dari pesantren bernama Haji Sarbini (Jaja Miharja), yang selalu merasa pendidikan tak terlalu penting. Dalam keseharian mereka topik ini selalu menjadi "Menu" Utama.

Di sisi lain Muluk yang masih sibuk mencari pekerjaan mendapati Komet sedang mencopet di pasar tradisional. Pertemuan Muluk dengan pencopet bernama Komet tak disangka membuka peluang kerja bagi Muluk. Komet membawa muluk ke markasnya, lalu memperkenalkannya kepada sang bos bernama Jarot.

Muluk kaget ketika tahu ternyata di markas itu berkumpul anak-anak seusia Komet, yang kerjanya hanya mencopet. Jarot - Sang Boss, dengan penuh curiga mengintrograsi Muluk dan akhirnya mengganggap muluk cukup bisa dipercaya, hingga Jarot menerangkan bahwa dia membagi anak asuhnya dalam tiga kelompok copet : Copet Mall, Copet Pasar dan Copet Angkot.

Akal Muluk berputar dan ia melihat adanya peluang, kemudian ditawarkannya kerjasama kepada Jarot. Ia memberi keyakinan kepada para pencopet bahwa sebagai Sarjana Manajemen ia dapat mengelola keuangan mereka, dan meminta imbalan 10% dari hasil nyopet anak-anak itu, termasuk biaya untuk mendidik mereka. Awalnya gagasan ini ditentang habis oleh para pencopet termasuk Jarot, Namun dengan “PRESENTASI” Yang menarik dan cukup masuk “AKAL”,mereka menerima lamaran Muluk sebagai “MANAJER” Mereka.

Hari berlalu, Muluk mulai mengelola “USAHA” Barunya… Pak Makbul-Ayah Muluk, Senang melihat anaknya sudah bekerja. Apalagi, Seperti pengakuan Muluk, Ia bekerja di Bagian SDM (SUMBER DAYA MANUSIA). Pak Makbul segera memberitahu Haji Sarbini Ayah Rahma Calon Besannya.

“USAHA” yang di kelola Muluk berbuah, Namun dihati kecilnya tergerak niat untuk mengarahkan para pencopet agar mereka merubah profesinya. Namun persoalannya tak sesederhana seperti yang ia pikirkan, para pencopet menolak gagasan Muluk untuk “MEMANUSIAKAN” Lewat Program Pendidikan Rancangannya,Lagi-lagi Muluk berhasil meyakinkan Jarot-Sang Boss.

Program Pendidikan untuk para pencopet mulai berlangsung. Muluk kemudian meminta bantuan dua rekannya, Samsul-Sarjana Pendidikan, yang kerjanya cuma main gaple di Pos Ronda dan Pipit juga Sarjana D3, yang kerjanya cuma mengadu keberuntungan mengikuti program kuis di TV. Setelah melewati perdebatan panjang mereka sepakat membantu Muluk. Mereka berbagi tugas mengajar, mulai dari pelajaran membaca, menulis hingga pelajaran Agama, Budi Pekerti dan Kewarganegaraan.

Berbagai keunikan serta kelucuan muncul saat para pencopet belajar, Maklum mereka bukan anak yang besar di lingkungan rumah yang baik. Kesabaran para "GURU" diuji, Muluk yang selalu tegus dalam niat terus meyakinkan dua sobatnya bahwa pekerjaan mereka adalah kerja mulia dan banyak manfaatnya. Sementara Pak Makbul-Ayah Muluk, Haji Sarbini-Calon Mertua Mulu, juga Haji Rahmat - Ayah Pipit, senang pula melihat anak-anak mereka sudah bekerja.

Yang penting banyak sekali pesan moral yang disampaikan dalam film ini, kehidupan Indonesia zaman sekarang yang penuh dengan Korupsi...tidak ada bedanya dengan kehidupan para pencopet, hanya saja pencopet tidak berpendidikan sehingga yang bisa dicopetpun terbatas, sementara koruptor adalah pencopet yang berpendidikan sehingga uang yang dicopet pun bisa lebih banyak. Pencopet buta huruf sehingga sewaktu di uber2 massa lari justru ke kantor polisi, sementara koruptor pintar membaca sehingga tidak perlu tertangkap apa bila ketahuan. Yang penting film ini benar2 lucu... penuh pesan dan sangat menyentuh.... beginilah potret hidup Indonesia zaman sekarang.Pencopet di uber-uber... sementara koruptor..dibiarkan bebas... lepas...

1 komentar:

Donga Dang mengatakan...

salah satu film yang layak ditonton di indonesia. sayangnya tak sehebat naga bonar 1 dan 2 yang lebih bisa menggugah rasa nasionalisme.