Meike Blog

Blog ini sebagai tempat aku menyimpan catatan perjalananku,curahan hatiku, tempat aku mengekspresikan diriku, tempat aku bercerita, entah dengan kata-kata atau dengan DIAM sekalipun...

Kamis, 29 April 2010

Hujan Membawa Bayanganmu Pergi...

raining Pictures, Images and Photos

Hujan Membawa Bayanganmu pergi...
Tanpa kata tanpa pesan

Aku tak ingin mengingatmu lagi
Seperti rintik2 hujan yang turun ke bumi
Datang dan berlalu

Andai sore ini tak turun hujan
Mungkin masih ada bayanganmu menemaniku
Tapi Hujan telah membawa bayanganmu pergi
Dan aku sudah tidak berharap lagi...

Jonggol, April 2010

Hujan

Colorful Nature Pictures, Images and Photos
Happy Birthday Pictures, Images and Photos

Minggu, 18 April 2010

Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Film garapan sutradara sekaligus aktor kawakan Deddy Mizwar yang berjudul Alangkah Lucunya (Negeri Ini) atau boleh juga disingkat ALNI ini akan ditayangkan di bioskop mulai hari ini (15 April 2010). Mumpung hari Minggu dan libur, ya daripada bete akhirnya jalan2 ke Mall Lippo Cikarang. Ehh.. kebetulan ada pemutaran perdana FILM LUCUNYA (NEGERI INI).

Seperti karya-karya film Deddy Mizwar lainnya yang terinspirasi dari kehidupan nyata sehari-hari, film ini juga memotret sebuah kisah kehidupan jalanan yaitu para pencopet dengan berbagai tingkah polahnya. Beberapa aktor besar peraih Piala Citra ikut bermain di film ini, seperti Deddy Mizwar, Slamet Raharjo, Tio Pakusadewo, dan lain-lain, yang memberi keyakinan bahwa film ini berkualitas dan memang layak ditonton.


Deskripsi...
Sejak lulus S1 Manajemen, Hampir 2 (dua) tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan, meskipun selalu gagal, ia tak pernah putus asa mencari kerja. Pak Makbul (Dedi Mizwar) ayah Muluk, selalu membanggakan anaknya dan meyakinkan pentikannya pendidikan kepada kawan akrabnya sejak dari pesantren bernama Haji Sarbini (Jaja Miharja), yang selalu merasa pendidikan tak terlalu penting. Dalam keseharian mereka topik ini selalu menjadi "Menu" Utama.

Di sisi lain Muluk yang masih sibuk mencari pekerjaan mendapati Komet sedang mencopet di pasar tradisional. Pertemuan Muluk dengan pencopet bernama Komet tak disangka membuka peluang kerja bagi Muluk. Komet membawa muluk ke markasnya, lalu memperkenalkannya kepada sang bos bernama Jarot.

Muluk kaget ketika tahu ternyata di markas itu berkumpul anak-anak seusia Komet, yang kerjanya hanya mencopet. Jarot - Sang Boss, dengan penuh curiga mengintrograsi Muluk dan akhirnya mengganggap muluk cukup bisa dipercaya, hingga Jarot menerangkan bahwa dia membagi anak asuhnya dalam tiga kelompok copet : Copet Mall, Copet Pasar dan Copet Angkot.

Akal Muluk berputar dan ia melihat adanya peluang, kemudian ditawarkannya kerjasama kepada Jarot. Ia memberi keyakinan kepada para pencopet bahwa sebagai Sarjana Manajemen ia dapat mengelola keuangan mereka, dan meminta imbalan 10% dari hasil nyopet anak-anak itu, termasuk biaya untuk mendidik mereka. Awalnya gagasan ini ditentang habis oleh para pencopet termasuk Jarot, Namun dengan “PRESENTASI” Yang menarik dan cukup masuk “AKAL”,mereka menerima lamaran Muluk sebagai “MANAJER” Mereka.

Hari berlalu, Muluk mulai mengelola “USAHA” Barunya… Pak Makbul-Ayah Muluk, Senang melihat anaknya sudah bekerja. Apalagi, Seperti pengakuan Muluk, Ia bekerja di Bagian SDM (SUMBER DAYA MANUSIA). Pak Makbul segera memberitahu Haji Sarbini Ayah Rahma Calon Besannya.

“USAHA” yang di kelola Muluk berbuah, Namun dihati kecilnya tergerak niat untuk mengarahkan para pencopet agar mereka merubah profesinya. Namun persoalannya tak sesederhana seperti yang ia pikirkan, para pencopet menolak gagasan Muluk untuk “MEMANUSIAKAN” Lewat Program Pendidikan Rancangannya,Lagi-lagi Muluk berhasil meyakinkan Jarot-Sang Boss.

Program Pendidikan untuk para pencopet mulai berlangsung. Muluk kemudian meminta bantuan dua rekannya, Samsul-Sarjana Pendidikan, yang kerjanya cuma main gaple di Pos Ronda dan Pipit juga Sarjana D3, yang kerjanya cuma mengadu keberuntungan mengikuti program kuis di TV. Setelah melewati perdebatan panjang mereka sepakat membantu Muluk. Mereka berbagi tugas mengajar, mulai dari pelajaran membaca, menulis hingga pelajaran Agama, Budi Pekerti dan Kewarganegaraan.

Berbagai keunikan serta kelucuan muncul saat para pencopet belajar, Maklum mereka bukan anak yang besar di lingkungan rumah yang baik. Kesabaran para "GURU" diuji, Muluk yang selalu tegus dalam niat terus meyakinkan dua sobatnya bahwa pekerjaan mereka adalah kerja mulia dan banyak manfaatnya. Sementara Pak Makbul-Ayah Muluk, Haji Sarbini-Calon Mertua Mulu, juga Haji Rahmat - Ayah Pipit, senang pula melihat anak-anak mereka sudah bekerja.

Yang penting banyak sekali pesan moral yang disampaikan dalam film ini, kehidupan Indonesia zaman sekarang yang penuh dengan Korupsi...tidak ada bedanya dengan kehidupan para pencopet, hanya saja pencopet tidak berpendidikan sehingga yang bisa dicopetpun terbatas, sementara koruptor adalah pencopet yang berpendidikan sehingga uang yang dicopet pun bisa lebih banyak. Pencopet buta huruf sehingga sewaktu di uber2 massa lari justru ke kantor polisi, sementara koruptor pintar membaca sehingga tidak perlu tertangkap apa bila ketahuan. Yang penting film ini benar2 lucu... penuh pesan dan sangat menyentuh.... beginilah potret hidup Indonesia zaman sekarang.Pencopet di uber-uber... sementara koruptor..dibiarkan bebas... lepas...

Kamis, 08 April 2010

Keindahan Hidup dalam Suasana yang Berbeda...

Lama sudah tidak pernah nulis lagi di blog, ada keinginan untuk menulis tapi bingung harus memulai dari mana dan menulis tentang apa? Tentang seseorang? tentang cinta? tentang kehidupan? bagusnya tentang apa ya? he...he.. kog malah balik nanya...
Satu tahun belakangan ini aku hijrah ke Jonggol Bogor. Sebuah kota arah timur pulau jawa,jika anda pergi ke Bandung menggunakan jalan alternatif Cianjur maka keluar pintu tol cibubur ambil jalur arah Ciulengsi kira-kira 14 Km dari Ciulengsi kita akan tiba di Jonggol. Hanya satu jam perjalanan kita sudah menemukan suasana yang jauh berbeda dari kota Jakarta. Pemandangan sawah hijau membentang masih bisa dinikmati disini,masih tenang dan jauh dari suasana berisik, apalagi polusi.
Tidak pernah ada dalam cita-cita maupun rencana hidup yang pernah ku susun untuk tinggal di kota ini, tapi sebagai seorang musafir jika takdir hidup membawaku ke sini aku pun hanya bisa menikmati dengan segala suka cita, dan berharap ada perubahan yang berarti nanti bagi kehidupanku ke depan.
Hampir satu tahun tinggal di kota ini, beradaptasi dengan masyarakat bersuku sunda memberi warna baru bagi kehidupanku.Awalnya sangat asing sekali, mulai dari bahasa yang tidak ku mengerti,sampai pandangan hidup yang tidak sepaham, tapi sudahlah itu bukan sebuah hal yang patut diperdebatkan,yang penting sebagai seorang musafir aku hanya ingin menikmati persingahan sementaraku di kota ini, dan berharap suatu saat cita-cita dan sebuah harapan membawaku pergi dari kota ini semua akan menjadi sebuah kenangan yang tidak pernah terlupakan.
Pagi tadi pengurus kontrakan tempatku tinggal bilang pusing...ni (singkatan uni, karena aku orang padang)... dijanjiin terus, ini belum bayar, itu belum bayar, katanya kemaren nggak tau nya sekarang belum bayar... itu sebuah contoh cerita hidup yang kunikmati di kota ini. Sebagai pendatang aku mengontrak bulanan sebuah rumah kontrakan, ada 30 pintu semuanya. Aku tidak tau persis apa pekerjaan penghuni kontrakan yang lain dan tidak sempat pula menanyakan satu persatu karena pagi2 aku sudah sibuk menyiapkan diri untuk berangkat bekerja dan pulang sore hari dengan badan yang sudah pegel2. Kalau ceh yayat datang membantuku mencuci pakaian ya cuma sama dia aku bisa cerita, itupun antara nyambung dan enggak. Hanya sebatas cerita2 ringan disela-sela dia mencuci pakaian atau mencuci piring.
Hidup dilingkungan berbeda dari kehidupan yang pernah ku jalani memberikan warna tersendiri bagiku, terasing disebuah tempat tanpa siapa2 membuat aku lebih memahami inilah kehidupan yang sebenarnya.Sebagai seorang musafir aku mencatat semua ini dalam buku harianku yang tidak akan pernah ku lupakan nanti. Kehidupan ini adalah sebuah proses dan aku ingin menikmati proses yang berbeda, karena perbedaan itu adalah keindahan. Bukankah kita bisa menikmati keindahan pelangi karena ada perbedaan warna dan keindahan hidup tentu karena ada perbedaan pengalaman, perbedaan tokoh2 yang hadir dalam kehidupan kita... semoga kedepan lebih baik lagi. Amin...

Jonggol, April 2010

Kamis, 13 Agustus 2009

Indahnya Persahabatan...

Sekedar mencurahkan isi hati dan perasaan tentang arti sebuah persahabatan. Sahabat dan teman adalah dua hal yang berbeda. Mencari seorang sahabat berbeda dengan mencari teman. Saya lebih senang menyebut orang yang begitu dekat dengan istilah sahabat dan menyebut orang yang tidak terlalu dekat dengan teman. Dalam setiap roda kehidupan kita akan dengan mudah menemukan teman tapi gampang-gampang susah menemukan sahabat.
Alhamdulillah dalam perjalanan hidup ini Allah menghadirkan teman-teman yang akhirnya berubah menjadi sahabat. Walau jarak telah memisahkan kami, keinginan, cita-cita, garis hidup membuat kami terpisah satu sama lain namun semua itu tidak mampu melupakan kenangan2 yang pernah kami rangkai bersama. Saling mengingatkan dikala lupa, saling menghibur dikala sedih.
Terima Kasih ya Allah... Engkau telah hadirkan sahabat-sahabat terbaik dalam hidupku. Yang ada di seluruh Indonesia.Hmm...iya...seluruh Indonesia, dari sabang sampai merauke. Ini adalah anugerah terindah bagiku. kemanapun kaki ini melangkah aku tidak perlu takut karena disetiap hentakan kaki ini disana ada sahabat terbaikku. Walau jarak memisahkan kita, namun kebaikan, kenangan2 tetap tersimpan dalam lubuk hatiku. Terima kasih sahabat2ku yang tidak bisa kusebutkan satu persatu...kehadiranmu telah melengkapi hidupku, telah membangkitkan semangatku,hingga aku menyadari hidup ini begitu indah dengan adanya persahabatan.oww... indahnya persahabatan ini

Senin, 03 Agustus 2009

Sekolah Gratis, Solusikah atau Masalah???

Terbersit saja untuk menulis tentang sekolah gratis yang saat ini sedang gencar-gencarnya dipromosikan, entah itu ditelevisi, radio maupun berupa spanduk yang dipajang disekolah itu sendiri.
Menurut pemahaman saya sebagai masyarakat awam, sekolah gratis bukanlah
sebuah solusi,karena kata-kata gratis tidak tepat digunakan apabila solusi dari kegratisan itu toh masih di bebankan ke anggaran negara, memang masyarakat tidak membayar tapi toh negara yang terbebani. Kenapa sih tidak menggunakan istilah "sekolah murah". Sekolah murah bukan berarti murahan,tidak bermutu, tidak berkualitas, tapi dengan sekolah murah pemerintah bisa mendidik masyarakat untuk tidak manja, masih perlu usaha untuk dapat bersekolah.Sehingga tidak ada kekecewaan. Karena menurut pemikiran masyarakat kata-kata gratis itu berarti tidak membayar sama sekali, sementara kenyataan dilapangan masih ada uang untuk beli buku, beli seragam dan ini itu.
Menggunakan subsidi silang mungkin juga hal yang tepat. Sikaya yang mempunyai harta yang melimpah mungkin bisa melebihkan membayar uang sekolah untuk membantu siswa yang tidak mampu. Jangan didik masyarakat kita dengan kemanjaan, sekolah gratis... setelah tamat nanti tidak berkualitas, tidak berkompeten pemerintah akan salah lagi karena pengangguran dimana-mana. Mari kita didik diri kita, keluarga kita dan anak-anak kita untuk tidak manja, bahwa sebuah keberhasilan itu melalui proses yang panjang dan butuh perjuangan.Suatu saat akan menjadi cerita...dulu waktu saya sekolah orang tua saya berjuang untuk mampu menyekolahkan saya dan adik-adik,sehingga saya bisa begini dan begitu, karena uang sekolahnya mahal maka saya rajin belajar agar tidak mengecewakan orang tua saya...dan cerita itupun nanti bisa kita sampaikan ke anak cucu untuk menjadi semangat. Dari pada kita bercerita dulu saya sekolah tapi ortu tidak perlu berjuang karena sekolah gratis... ke sini gratis... ini itu gratis... hmmm...sekolah gratis...Solusikah atau masalah???

Sabtu, 11 Juli 2009

Jangan Putus Asa




Meike
(KapanLagi.com)