Meike Blog

Blog ini sebagai tempat aku menyimpan catatan perjalananku,curahan hatiku, tempat aku mengekspresikan diriku, tempat aku bercerita, entah dengan kata-kata atau dengan DIAM sekalipun...

Jumat, 17 Oktober 2008

Solusi untuk yang Sakit Maag

Ini mungkin aneh dan diluar kebiasaan, tapi ini benar-benar terjadi dan sudah dua kali coba aku buktikan. Sebagai orang yang sibuk kadang kita lupa makan. Apalagi sudah bekerja secara online tiba-tiba lupa waktu bahkan kadang lupa makan. kita baru sadar setelah bibir yang biasanya tersenyum sekarang tetap tersenyum sambil mengerang karena asam lambung naik dan perut seperti ditusuk-tusuk.
Saya pernah alami, waktu itu hampir 3 hari nggak makan nasi, makannya cuma bakso, tekwan, sate, mie tek tek. Suatu malam dipertengahan tahun 2006 rasanya mimpi sakit perut. setelah bangun ternyata sakit beneran. Dengan bersimbah keringat saya coba melawan rasa sakit yang ada tapi sampai pagi tetap saja dibuat tak berdaya.Untung waktu itu ada teman yang baik hati bernama Berti (hmm... jadi rindu sama dia) dia bawa kerumahnya terus diantar berobat. Ketahuan deh ternyata saya maag. mulai deh puyeng membayangkan kemana-mana harus bawa makanan. Sudah berobat kesana kemari itu penyakit setia sekali. makan agak cepat sakit, nggak makan tetap sakit. Kadang karena sibuk saya tidak bisa terlalu disiplin untuk makan.
Entah darimana idenya tiba-tiba saja saya kepikiran, bisa jadi didalam perut kita itu ada cacing. Kita tidak tau kadang kita makan dimana, minum dimana. Kebersihannya terjaga atau tidak, akhirnya cacing2 itu berkembang didalam perut kita, yang setiap waktu dan saat minta dikasih makan. Tanpa pikir panjang saya pergi ke apotek membeli obat cacing (nggak tau neh apa dalam pikiran yang punya apotek, cantik-cantik tapi cacingan he...he...he... emang saya cantik ya?? ) Sesampai dirumah itu obat langsung saya makan...glek...glek...
Alhamdulillah sejak saat itu sakit maagnya agak berkurang, mungkin sebagian dari cacing-cacing itu sudah mati terbunuh (saya sadis ya???) Tapi ini mungkin pengalaman sendiri saja. karena memang saya lagi cacingan. Saya tidak berani merekomendasikan karena saya bukan dokter,apalagi ahli cacing.Kalau mau mencoba silahkan tapi kalau cacingnya tetap hidup dan anda yang mati jangan salahkan saya ya.... he...he...

Suatu hari di Pulau Sabang Aceh...


Foto-foto di Sabang


Awalny tidak pernah terpikir bakal menginjakkan kaki di Kota Sabang Nanggroe Aceh Darussalam. Bermimpipun saya tidak berani walau kadang sering menyanyikan lagu dari Sabang sampai Merauke, tapi untuk sampai ke kota itu hmmm.... nggak berani. Apalagi tepat tanggal 26 Desember 2004 Banda Aceh diterjang Tsunami, ribuan orang meninggal, kehilangan tempat tinggal bahkan tidak sedikit kehilangan sanak keluarga yang dicintai.
Pada akhir Agustus 2005 saya mendapat telpon dari Pak Herdiyana disuruh berangkat ke Aceh membantu pendistribusian teksbook untuk anak-anak korban tsunami dan kampanye kembali ke sekolah. Tanpa pikir panjang saya langsung meng-iyakan walau belum dapat izin dari Kepala Sekolah. Sejuta cerita tentang bagaimana aceh saya kubur dalam-dalam, yang ada hanya bagaimana saya bisa menginjakkan kaki di kota serambi mekah itu.Walau saya cuma seorang guru honor tapi saya ingin membuat cerita dalam perjalanan hidup saya siapapun kita, bagaimanapun keadaan kita. Kita harus tetap bisa eksis dan menorehkan cerita indah selama hidup didunia.
Tanpa ada rasa rendah diri saya berangkat bersama tim yang jumlahnya 5 orang. yaitu Munawar (NTB) Cak Syukur (Lamongan) Arifin Kude (Ternate), Dodo Supriyadi (Ciamis) dan saya Meike (Bengkulu) Paling cantik deh waktu itu.
Berbekal tiket dari Unicef kamipun berangkat ke Aceh. Setelah beristirahat semalaman keesokan paginya kami di jemput petugas dari Unicef. Sebelum menuju kantor Unicef kami diajak dulu jalan-jalan ke ule-le melihat karya seni dari Tsunami. Dikantor Unicef kami disambut oleh Pak Asraff. Pak Asraf membagi tugas dan wilayah. Karena saya satu-satunya perempuan saya ditempati diwilayah yang agak dekat dari Banda Aceh yaitu Kota Banda Aceh.Kab Aceh Besar, Kab Pidie, Kab Bireun dan Kota Sabang.Setelah pembagian tugas mulailah kami menjalankan tugas masing-masing. Dalam waktu 20 hari kami harus mampu menyelesaikan tugas yaitu membantu pendistribusian teksbook bantuan dari Unicef untuk siswa SD yang terkena tsunami.
Setelah menyelesaikan pendistribusian di tiga kabupaten, Aceh Besar, Pidie dan Bireun saya kembali ke Kota Banda Aceh. Rencana mau mencuci pakaian karena stok pakaian saya sudah habis, beristirahat sehari dan besok baru berangkat ke Sabang. Tepat jam 12 siang saya ditelpon pak Asraf dari Unicef agar sesegeranya berangkat ke Sabang, karena buku2 belum didistribusikan.Awalnya saya ragu mau berangkat karena hari itu hujan angin yang melanda kota banda aceh tapi karena dituntut profesional saya mengiyakan sambil mencari informasi kapal terakhir ke sabang. Sewaktu saya mendapat informasi bahwa ada kapal jam 3 sore saya langsung bergegas ke pelabuhan uleuleu. Berbekal baju seadanya dan poster-poster serta kelengkapan administrasi yang lain saya berangkat ke Sabang. Dalam perjalanan ke pelabuhan tak henti-henti saya mengontak orang Diknas Kota Sabang, karena tidak nyambung-nyambung akhirnya saya memutuskan untuk mengontak pak Warsito tim EMIS untuk kota Sabang. Alhamdulillah nyambung, bersyukur sekali pak warsito mau menunggu saya di pelabuhan Balohan.
Jam setengah lima sore kaki saya menginjak Kota Sabang. Rasa haru biru menyelimuti hati saya sewaktu melihat keindahan Pulau Sabang. Walau gerimis saya tidak terlalu menggubriskannya. Sambil tetap tak henti-hentinya saya bersyukur serasa mimpi bisa sampai ke kilometer nol RI ini.Jika dipikir-pikir rasanya tidak masuk akal tetapi memang rejeki itu tidak ada pintunya. Setelah beristirahat sejenak di kontrakan pak warsito saya dijemput oleh keluarga yang ada di Sabang. Karena suaminya TNI AU yang ditugaskan di Kota Sabang akhirnya saya menginap di Komplek Angkatan Udara Kota Sabang di Pantai Kasih. Karena tinggal di pinggir pantai kasih selama 1 minggu saya bisa menikmati keindahan Pantai kasih di pagi dan sore hari.
Kota Sabang benar-benar memberi kesan tersendiri bagi saya.hmm... semoga suatu saat bisa lagi kesana

Perjalanan ke Yogya

Yogya sepertinya tidak pernah ada puasnya mengunjungi kota ini. Alhamdulillah lebaran kemaren ada kesempatan mengunjungi kota yang penuh sejarah ini.
Berikut gambar aja yang berbicara